SISTEM PENILAIAN
PROSES PEMBELAJARAN SAINS PADA SISWA
PENGERTIAN PENILAIAN
Penilaian
adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan untuk
mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik dalam
rangka membuat keputusan-keputusan berdasarkan kriteria dari pertimbangan
tertentu. Kegiatan penilaian harus dapat memberikan informasi kepada guru untuk
meningkatkan kemampuan mengajarnya dan membantu peserta didik mencapai
perkembangan belajarnya secara optimal. Implikasinya adalah kegiatan penilaian
harus digunakan sebagai cara atau teknik untuk mendidik sesuai dengan prinsip
pedagogis. Guru harus menyadari bahwa kemajuan belajar perserta didik merupakan
salah satu indikator keberhasilan dalam pembelajaran.
Menurut
Suharsimi Arikunto penilaian adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu
dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Menurut Djemari
Mardapi (1999: 8) penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan
hasil pengukuran. Menurut Cangelosi (1995: 21) penilaian adalah keputusan
tentang nilai. Menurut Akhmat Susrajat penilaian (assessment) adalah penerapan
berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi
tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi
(rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang
sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian
dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai
kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau
penentuan nilai kuantitatif tersebut.
Adapun
tujuan penilaian adalah:
1)
untuk memberikan informasi kemajuan hasil belajar siswa secara individu dalam
mencapai tujuan sesuai dengan kegiatan belajar yang dilakukan;
2). informasi yang dapat digunakan untuk
membina kegiatan belajar mengajar lebih lanjut; informasi yang dapat digunakan
guru untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa;
3)
memberikan motivasi belajar siswa, menginformasikan kemauannya agar terangsang
untuk melakukan usaha perbaikan;
4) memberi informasi tentang semua aspek
kemajuan siswa; dan
5) memberi bimbingan yang tepat untuk memilih
sekolah atau jabatan sesuai dengan keterampilan, minat, dan kemampuannya.
Syarat
menyusun alat penilaian
Membuat
pertanyaan tes (alat evaluasi) tidak mudah, sebab tes/pertanyaan merupakan alat
untuk melihat perubahan kemampuan dan tingkah laku siswa setelah ia menerima
pengajaran dari guru/pengajar di sekolah. Alat evaluasi yang salah, akan menggambarkan
kemampuan dan tingkah laku yang salah pula. Oleh karena itu teknik penyusunan
alat evaluasi penting dipertimbangkan agar memperoleh hasil yang objektif.
Beberapa
syarat dan petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun alat evaluasi, ialah:
1. Harus
menetapkan dulu segi-segi apa yang
akan dinilai, sehingga betul-betul terbatas serta dapat memberi petunjuk
bagaimana dan dengan alat apa segi tersebut dapat kita nilai.
2. Harus
menetapkan alat evaluasi yang betul-betul valid dan reliable, artinya taraf
ketetapan dan ketetapan tes sesuai dengan aspek yang akan dinilai.
3. Penilaian
harus objektif, artinya menilai prestasi siswa sebagaimana adanya.
4. Hasil
penilaian tersebut harus betul-betul diolah dengan teliti sehingga dapat ditafsir
berdasarkan kriteria yang berlaku.
5. Alat
evaluasi yang dibuat hendaknya mengandung unsure diagnosis, artinya dapat
dijadikan bahan untuk mencari kelemahan siswa belajar dan guru mengajar.
Penilaian Hasil Belajar
Sains
Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan
penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh
mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan)
siswa. Dalam rancangan penilaian hasil belajar Depdiknas, penilaian
didefinisikan sebagai proses sistematis meliputi pengumpulan
informasi (angka, deskripsi verbal), analisis, interpretasi informasi untuk
membuat keputusan. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau
prestasi belajar seorang siswa.
Kegiatan penilaian hasil belajar sains dilakukan untuk
menafsirkan hasil pengukuran dan menentukan pencapaian hasil belajar sains
berdasarkan kriteria tertentu. Umumnya digunakan kategorisasi seperti
baik-buruk, benar-salah, sangat setuju-sangat tidak setuju, dan sebagainya.
Pendekatan dalam penilaian pembelajaran biasanya terdiri atas:
Penilaian Acuan Norma (Norm-Referenced-PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (Criterion-Referenced-PAP). PAN
adalah penilaian yang membandingkan hasil pengukuran yang diperoleh orang lain
dalam kelompoknya. Sedangkan PAP adalah penilaian berdasarkan patokan atau
kriteria tertentu yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Adapun rangkuman
ciri-ciri perbandingan kedua-duanya adalah sebagai berikut:
|
PAP
|
PAN
|
|
|
KEGUNAAN
|
Ketuntasan
belajar
|
Pengujian
hasil belajar
|
|
PENEKANAN
UTAMA
|
Menjelaskan
kemampuan menyelesaikan tugas
|
Mengukur
perbedaan individu
|
|
INTERPRETASI
HASIL
|
Membandingkan
kemampuan dengan kriteria penilaian
|
Membandingkan
antara prestasi peserta didik
|
|
KELUASAN
ISI
|
Terfokus
pada tugas terbatas
|
Mencakup
isi yang luas
|
|
PERENCANAAN
TES
|
Rincian
kemampuan yang diukur
|
Kisi-kisi
tes sangat dibutuhkan
|
|
PROSEDUR
PEMILIHAN BUTIR
|
Mengikutkan
semua butir yang diperlukan , tidak ada pergantian tingkat kesulitan butir
atau membuang butir yang mudah
|
Seleksi
butir dengan daya beda tinggi, memperoleh variasi skor yang besar
(heterogen), butir mudah dihilangkan
|
|
STANDAR
HASIL
|
Penggunaan
standar mutlak (menguasai 75% istilah teknis)
|
Penggunaan
standar norma (rangking 5-40 siswa)
|
Standar Penilaian IPA
Latar
belakang disusunnya Standar pendidikan IPA ini adalah karena adanya kebutuhan
masyarakat terhadap IPA bukan hanya sekedar ilmu tetapi sebagai sesuatu yang
dapat digunakan untuk bertahan hidup (NRC, 1996). Standar penilaian menyediakan
kriteria untuk menentukan kualitas
praktik-pratik penilaian. Standar penilaian meliputi lima bidang sebagai
berikut:
1.
Konsistensi penilaian dengan suatu keputusan merupakan desain untuk informasi
2.
Penilaian prestasi dan kesempatan untuk belajar sains
3.
Mencocokkan antara kualitas teknis dari kumpulan data dan konsekuensi tindakan
yang perlu dilakukan berbasis data tersebut
4. Kejujuran dalam praktik penilaian
5.
Ketepatan penarikan kesimpulan berdasarkan penilaian tentang prestasi siswa dan
kesempatan untuk belajar.
Dalam
visi yang dijelaskan oleh National Science Education Standards, penilaian
adalah mekanisme umpan balik utama dalam sistem pendidikan sains. Standar
penilaian menyediakan siswa dengan umpan
balik tentang seberapa baik mereka memenuhi harapan, guru dengan umpan balik
tentang seberapa baik siswa mereka belajar, sekolah dengan umpan balik tentang
efektivitas guru dan program mereka, dan pembuat kebijakan dengan umpan balik
tentang seberapa baik kebijakan bekerja. Umpan balik ini pada gilirannya
merangsang perubahankebijakan, memandu pengembangan profesional guru, dan
mendorong siswa untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang IPA.
Pentingnya Penilaian
Keterampilan Sains
Dalam
konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan oleh guru untuk mengukur
perkembangan hasil belajar siswa sebagaimana yang dirumuskan dalam tujuan
pembelajaran. Selain itu, penilaian juga dilakukan untuk mendiagnosis kesulitan
belajar dan memberikan umpan balik kepada siswa. Dengan demikian, penilaian
dilakukan secara terus menerus guna memastikan terjadinya kemajuan dalam
belajar siswa. Hasil penilaian yang diperoleh, dapat dijadikan sebagai dasar
menentukan keputusan tentang upaya perbaikan pembelajaran. Dalam hal ini upaya
bimbingan terhadap siswa, yang diperlukan untuk memperbaiki hasil pembelajaran.
Sains
dan mengajarkan siswa tentang sains memiliki arti lebih dari pada pengetahuan
ilmiah itu sendiriknowledge.. Menurut Rezba (1999), hThere are three
dimensionsal ini disebabkan karena iof science that are all importalmu
pengetahuan dikonstruksi atas tiga dimensi penting. The first Pertama of these is the
content of science, the basic adalah konten atau isi dari ilmu pengetahuan,
konsep dasarconcepts, and our scientific knowledge., dan pengetahuan ilmiah.
Dimensi ini merupakan dimensi ilmu pengetahuan yang sangat penting dan umumnya
menjadi bahan pemikiran pertama. Kedua adalah
The other two important dimensions of sciencprosesof doing science and
scientific attitudes. kerja sains, di mana proses sains dalam hal ini adalah
keterampilan proses sains yang digunakan para ilmuan dalam proses melakukan
sains atau kerja ilmiah. Ketika siswa belajar sains menggunakan pendekatan
keterampilan proses sains, maka pada saat yang sama juga belajar tentang
keterampilan proses sains.
Dimensi ketiga ilmu
pengetahuan adalah sikap ilmiah. Dimensi ini fokus pada sikap dan “watak” yang menjadi
karakter dari sains. Dimensi ini mencakup hal-hal seperti rasa keingintahuan
dan kemampuan imajinasi, antusiasme dalam mengajukan pertanyaan dan
menyelesaikan masalah. Lebih dari itu, sikap ilmiah yang penting adalah
bahwasanya pengetahuan dan teori ilmiah berubah setiap saat berdasarkan
perkembangan informasi. Dalam hal ini, siswa menyikapi kebenaran dalam ilmu
pengetahuan sebagai kebenaran yang bersifat sementara atau tentatif.
Dalam
sifat ketentativan ilmu pengetahuan, guru tidaklah mungkin dapat mengajarkan
semua konten dalam ilmu pengetahuan. Siswa dalam keterbatasannya pun tidak
mungkin dapat mengetahui semua fakta-fakta yang telah ditemukan oleh para
ilmuwan. Oleh karena itu, hal yang paling rasional dapat dilakukan adalah siswa
harus memahami metodologi kerja sains dan memiliki keterampilan dalam kerja
ilmiah atau keterampilan proses sains. Dengan hal itu, siswa memiliki
kompetensi untuk dapat mengembangkan sendiri pengetahuannya. Pada suatu saat,
siswa mungkin saja dapat memberi kontribusi dalam perkembangan ilmu
pengetahuan.
Keterampilan
proses sains dapat dikatakan sebagai kompetensi yang bersifat generik.
Keterampilan proses sains memiliki peran yang sangat penting dalam proses
pembentukan ilmu pengetahuan. Dalam hal
ini, kemampuan keterampilan proses sains dapat mempengaruhi perkembangan
pengetahuan siswa. Membiasakan siswa belajar melalui proses kerja ilmiah,
selain dapat melatih detail keterampilan ilmiah dan kerja sistematis, dapat
pula membentuk pola berpikir siswa secara ilmiah. Dengan demikian, pengembangan
keterampilan proses sains dapat berimplikasi pada pengembangan kemampuan berpikir
siswa (high
order of thinking).
Oleh
karena itu, dalam konteks pembelajaran sains pun harus dirancang sebagaimana
desain tiga dimensi sains yaitu konten/produk pengetahuan, proses ilmiah dan
sikap ilmiah. Dalam hal ini, pembelajaran sains haruslah mengintegrasikan
antara pembelajaran keterampilan kerja ilmiah sebagai proses penemuan dan
pembentukan pengetahuan, pembelajaran konsep dasar pengetahuan sains sebagai
konten/produk sains, dan pembelajaran sikap ilmiah. Oleh karena pembentukan
pengetahuan sains diawali dari proses yang ilmiah, maka pembelajaran sains pun
harus diletakkan dan ditekankan lebih awal pada kemampuan keterampilan proses
sains siswa. Dengan demikian, perkembangan kemampuan keterampilan proses siswa
memiliki peran yang sama penting dan terintegrasi dengan penguasaan pengetahuan
sains dan sikap ilmiah.
Aspek Penilaian
Tujuan
IPA adalah menguasai pengetahuan IPA, memahami dan menerapkan konsep IPA,
menerapkan keterampilan proses, dan mengembangkan sikap. Tujuan penilaian ini
sejalan dengan tiga aspek dalam kerangka kurikulum IPA seperti ditunjukkan di
bawah:
1.
Penilaian Pengetahuan, pemahaman dan penerapan konsep IPA
2.
Penilaian Keterampilan dan Proses
3.
Penilaian karakter dan sikap (sikap ilmiah)
Penjelasan
ketiga jenis penilaian tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1.
Penilaian Pengetahuan, Pemahaman dan Penerapan Konsep IPA
Penilaian
pengetahuan IPA merupakan produk dari pembelajaran IPA. Penilaian ini bertujuan
untuk melihat penguasaan peserta didik terhadap fakta,konsep, prinsip, dan
hukum-hukum dalam IPA dan penerapannya dalamkehidupan. Peserta didik diharapkan
dapat menggunakan pemahamannyatersebut untuk membuat keputusan, berpartisipasi
di masyarakat, danmenanggapi isu-isu lokal dan global.
2.
Penilaian Keterampilan Proses
Penilaian
dilakukan tidak hanya terhadap produk, tetapi juga proses.Penilaian proses IPA
dilakukan terhadap keterampilan proses IPA, meliputi keterampilan dasar IPA dan
keterampilan terpadu tingkat awal. Keterampilanproses IPA dasar meliputi
observasi, inferensi, melakukan pengukuran,menggunakan bilangan, klasifikasi,
komunikasi, dan prediksi. Di samping itu,peserta didik mulai diperkenalkan
dengan kemampuan melakukan percobaansederhana dengan dua variabel atau lebih
untuk menguji hipotesis tentanghubungan antar variabel. Peserta didik juga
dilatih mengkomunikasikan hasilbelajarnya melalui berbagai bentuk sepeti debat,
diskusi, presentasi, tulisan, dan bentuk ekspresif lainnya. Dari berbagai
keterampilan proses ilmiah,
3.
3. Penilaian sikap
Penilaian sikap ilmiah meliputi sikap obyektif, terbuka,
tidak menerima begitusaja sesuatu sebagai kebenaran, ingin tahu, ulet, tekun,
dan pantang menyerah. Selain itu, kemampuan bekerjasama, bertukar pendapat,
mempertahankan pendapat, menerima saran, dan kemampuan sosial lainnya dapat
juga dilakukanmelalui pembelajaran IPA.
Dari uraian yang
telah disampaikan, penulis mengajukan 3 pertanyaan, yaitu :
1.
Apakah yang menjadi pertimbangan
guru dalam memberi penilaian pada pembelajaran sains terhadap siswa ?
2.
Apakah yang menyebabkan Kriteria
Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah berbeda-beda ?
3.
Apakah makna penilaian bagi guru
dan siswa ?
Menyikapi pertanyaan yg no 3?
BalasHapus1.Makna bagi siswa.
Melalui penilaian,siswa dapat mengetahui sejauhmana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Apakah siswa merasa puas atau tidak puas atas hasil yang diperolehnya.
2.Makna bagi guru
Dapat mengetahui siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya dan siswa mana yang belum berhasil menguasai bahan.
Guru dapat mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa atau belum, apabila materi tepat maka diwaktu akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
Guru akan mengetahui metode yang digunakan sudah tepat atau belum. Jika hasil yang diperoleh sebagian besar siswa mendapatkan nilai bagus maka metode sudah tepat sebaliknya bila sebagian besar hasil yang diperleh siswa buruk maka metode yang digunakan harus dipertimbangkan kembali dan kalau perlu diganti.
Assalamualaikum wr wb,
BalasHapusTerkait pertanyaan pertama menurut saya yg perlu dipertimbangkan guru dalam penilaian sains adalah tujuan pembelajarannya terlebih dahulu,lalu memilih instrumen, setelah tau instrumen maka maksimalkan dalam memperhatikan pbm, selanjutnya adil dalam melakukan penilain,dll. Terimakasih
Menanggapi soal no 3.
BalasHapussaya sangat setuju sekali dengan apa yang telah di paparkan oleh saudari meri mengenai makna penilaian bagi guru dan siswa. Di sini saya ingin menambahkan pemaparan tentang hal itu.
A.makna penilaian bagi guru
Dengan melaksanakan penilaian, guru akan memperoleh data tentang kemajuan belajar siswa.
Guru akan mengetahui apakah materi yang diajarkannya sudah sesuai atau tidak dengan kemampuan siswa, sehingga dapat dijadikan pertimbangan untuk menentukan materi pelajaran selanjutnya.
Dengan melaksanakan penilaian guru akan dapat mengetahi apakah metode mengajar yang digunakannya sudah sesuai atau tidak.
Hasil penilaian dapat dimanfaatkan guru untuk melaporkan kemajuan belajar siswa kepada orang tua/wali siswa.
B. Makna penilaian bagi siswa
Hasil penilaian dapat menjadi pendorong siswa agar belajar lebih giat.
Hasil penilaian dapat dimanfaatkan siswa untuk mengetahui kemajuan belajarnya.
Hasil penilaian merupakan data tentang apakah cara belajar yang dilaksanakannya sudah tepat atau belum.
Assalamualaikum wr wb
BalasHapusMenanggapi pertanyaan no 3. Makna penilaian bagi guru berdasakan beberapa sumber yang saya baca, dimana hasil penilaian yang diperoleh oleh guru akan dapat digunakan mengetahui kemampuan siswa, ketuntasan belajar siswa, siswa yang berhasil & tidak berhasi menguasi materi ajar, untuk mengetahui sejauah mana keberhasilan program atau rencana pembelajaran yang dirancang oleh guru, seberapa besar ketercapaian tujuan pembelajaran dan dijadikan bahan refleksi oleh guru.
Assalamualaikum wr.wb
BalasHapusSaya mencoba menanggapi pertanyaan no 2.
Nilai KKM diambil dari penilaian terhadap kompleksitas materi, daya dukung pembelajaran, serta intake (kemampuan) siswa. Kesemuanya diramu dari tingkat indikator, kompetensi dasar, standar kompetensi, hingga jadilah KKM mata pelajaran yang tertera di rapor siswa.Perhitungan KKM haruslah benar-benar objektif sesuai dengan kondisi pembelajaran di sekolah karena KKM juga berkaitan dengan standar evaluasi yang digunakan. Jadi, tak bisa KKM didapat dengan cara ditebak, sesuai kehendak guru, atau atas dasar permintaan Kepala Sekolah
Terima kasih
saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3.
BalasHapusmenurut sya Makna penilaian bagi siswa yaitu siswa dapat mengetahui sejauh mana mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru serta sejauh mna hasil yg telah didapat oleh siswa.
kemudian Makna penilaian bagi guru yaitu guru akan dapat mengetahui kemampuan siswa.Guru mengetahui apa materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa sehingga untuk memberikan pengajaran diwaktu yang akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum. terimakasih ^_^
saya akan menanggapi pertanyaan sdri.Tiara menegnai: Apakah yang menyebabkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah berbeda-beda ?
BalasHapus-menurut saya, mengapa KKM tip sekolah itu berbeda karena penentuan score KKM sekolah itu dipengaruhi oleh daya dukung pembelajaran yang meliputi profesionalisme guru, kelengkapan sarana dan prasarana, serta manajemen sekolah. Selain itu harus melihat pula apakah intake siswa memang tinggi dan apakah kompleksitas materi yang diajarkan rendah sehingga siswa akan dengan mudah mempelajarinya. maka dengan demikian hal tsb akan menjadi bahan pertimbangan bagi forum MGMP sekolah dalam menetapkan score KKM. setiap sekolah pasti memiliki situasi dan kondisi yang berbeda-beda, oleh karena itu lah score KKM itu juga berbeda di tiap sekolah.
terima kasih.
Apakah makna penilaian bagi guru dan siswa ?
BalasHapusmenanggapi hal ini, bagi guru.. penilaian adalah sarana mengetahui ke efektifan guru dalam mengajar, keterampilan dan kecakapan, sehingga dapat jadi acuan untuk perbaikan dalam proses belajar selanjutnya, bagi siswa... penilaian dijadikan motivasi untuk lebih baik dalam proses pembelqajran, dimana proses belajar mereka yang baik akan menetukan hasil yang baik pula.
Apakah yang menyebabkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah berbeda-beda ?
BalasHapusyang membedakan KKM antar sekolah sangat dipengaruhi oleh sarana prasarana, cara guru mengajar dan pertemuan antar guru untuk menyamakan pendapat untuk penilaian terhadap siswa yang di ajar dan ditunjang oleh kepala sekolah dan komite sekolahnya.
Salam
Agung Laksono
Assalamualaikum, saya akan menanggapi pertanyaan yang ketiga tentang makna penilaian bagi guru dan siswa. Bagi siswa, Dengan diadakanya penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Hasil yang diperoleh siswa dari perkerjaan menilai ini ada 2 kemungkinan yaitu memuaskan dan tidak memuaskan.
BalasHapusb. Makna bagi guru:
1. Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui kemampuan siswa.Dengan petunjuk ini guru dapat lebih memusatkan perhatianya kepada siswa-siswa yang belum berhasil.
2. Guru mengetahui apa materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa sehingga untuk memberikan pengajaran diwaktu yang akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
3. Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum
Menanggapi pertanyaan nomor 3.1. Makna bagi siswa.
BalasHapusMelalui penilaian, siswa dapat mengetahui sejauhmana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Apakah siswa merasa puas atau tidak puas atas hasil yang diperolehnya. Bila hasilnya memuaskan akan menyenangkan dan dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih giat lagi sementara bila hasil tidak memuaskan maka ia akan berusaha agar penilaian berikutnya memperoleh hasil yang memuaskan.
2. Makna bagi guru
Berdasarkan hasil penilaian, bagi guru dapat:
Dapat mengetahui siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya dan siswa mana yang belum berhasil menguasai bahan.
Guru dapat mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa atau belum, apabila materi tepat maka diwaktu akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
Guru akan mengetahui metode yang digunakan sudah tepat atau belum. Jika hasil yang diperoleh sebagian besar siswa mendapatkan nilai bagus maka metode sudah tepat sebaliknya bila sebagian besar hasil yang diperleh siswa buruk maka metode yang digunakan harus dipertimbangkan kembali dan kalau perlu diganti.
Terimakasih
terima kasih menjawab nmor 2 Apakah yang menyebabkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah berbeda-beda ?
BalasHapus1. Menetapkan KKM setiap kompetensi dasar (KD), yang menggunakan kriteria analisis dengan mempertimbangkan aspek karakteristik peserta didik (intake), karakteristik mata pelajaran (kompleksitas materi/kompetensi), serta guru dan kondisi satuan pendidikan (daya dukung);
2. Menetapkan KKM mata pelajaran yang merupakan rata-rata dari semua KKM kompetensi dasar yang terdapat dalam satu mata pelajaran;
3. Menetapkan KKM pada tingkatan kelas yang merupakan rata-rata dari semua KKM mata pelajaran pada setiap tingkatan kelas; dan
4. Menetapkan KKM satuan pendidikan yang merupakan rata-rata dari semua KKM pada setiap tingkatan kelas dalam satu semester atau satu tahun pembelajaran.
poin-poin inilah yang membuat KKM disetiap sekolah berbeda-beda.
Assalamualaikum
BalasHapusSaya akan menjawab pertanyaan no 3.
makna nilai bagi guru yaitu:
1. Dapat mengetahui siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya dan siswa mana yang belum berhasil menguasai bahan.
2. Guru dapat mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa atau belum.
3. Guru akan mengetahui metode yang digunakan sudah tepat atau belum.
Makna nilai bagi siswa yaitu:
Melalui penilaian, siswa dapat mengetahui sejauhmana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Apakah siswa merasa puas atau tidak puas atas hasil yang diperolehnya
menanggapi pertanyaan no 2
BalasHapusApakah yang menyebabkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah berbeda-beda ?
Nilai KKM diambil dari penilaian terhadap kompleksitas materi, daya dukung pembelajaran, serta intake (kemampuan) siswa. Kesemuanya diramu dari tingkat indikator, kompetensi dasar, standar kompetensi, hingga jadilah KKM mata pelajaran yang tertera di rapor siswa.
Perhitungan KKM haruslah benar-benar objektif sesuai dengan kondisi pembelajaran di sekolah karena KKM juga berkaitan dengan standar evaluasi yang digunakan. Jadi, tak bisa KKM didapat dengan cara ditebak, sesuai kehendak guru, atau atas dasar permintaan Kepala Sekolah. Misalkan karena sekolahnya favorit maka KKM-nya harus diatas 80 pada setiap mata pelajaran. Padahal secara penilaian sesungguhnya (perhitungan) bisa saja tidak sampai 80. Misalnya mungkin kompleksitas materi yang dipelajari dianggap sangat mudah sehingga diperkirakan siswa dapat mencapai nilai di atas 80. itulah penyebab nilai KKM disekolah berbeda-beda.
Apakah yang menyebabkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah berbeda-beda ? karena adanya perbedaan kondisi pembelajaran disekolah Nilai KKM diambil dari penilaian terhadap kompleksitas materi, daya dukung pembelajaran, serta intake (kemampuan) siswa. Kesemuanya diramu dari tingkat indikator, kompetensi dasar, standar kompetensi
BalasHapus