SISTEM PENILAIAN PROSES PEMBELAJARAN SAINS PADA SISWA

PENGERTIAN PENILAIAN

Penilaian adalah suatu proses atau kegiatan yang sistematis dan berkesinambungan untuk mengumpulkan informasi tentang proses dan hasil belajar peserta didik dalam rangka membuat keputusan-keputusan berdasarkan kriteria dari pertimbangan tertentu. Kegiatan penilaian harus dapat memberikan informasi kepada guru untuk meningkatkan kemampuan mengajarnya dan membantu peserta didik mencapai perkembangan belajarnya secara optimal. Implikasinya adalah kegiatan penilaian harus digunakan sebagai cara atau teknik untuk mendidik sesuai dengan prinsip pedagogis. Guru harus menyadari bahwa kemajuan belajar perserta didik merupakan salah satu indikator keberhasilan dalam pembelajaran.
Menurut Suharsimi Arikunto penilaian adalah mengambil suatu keputusan terhadap sesuatu dengan ukuran baik buruk. Penilaian bersifat kualitatif. Menurut Djemari Mardapi (1999: 8) penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau mendeskripsikan hasil pengukuran. Menurut Cangelosi (1995: 21) penilaian adalah keputusan tentang nilai. Menurut Akhmat Susrajat penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.
Adapun tujuan penilaian adalah:
1) untuk memberikan informasi kemajuan hasil belajar siswa secara individu dalam mencapai tujuan sesuai dengan kegiatan belajar yang dilakukan;
 2). informasi yang dapat digunakan untuk membina kegiatan belajar mengajar lebih lanjut; informasi yang dapat digunakan guru untuk mengetahui tingkat kemampuan siswa;
3) memberikan motivasi belajar siswa, menginformasikan kemauannya agar terangsang untuk melakukan usaha perbaikan;
 4) memberi informasi tentang semua aspek kemajuan siswa; dan
 5) memberi bimbingan yang tepat untuk memilih sekolah atau jabatan sesuai dengan keterampilan, minat, dan kemampuannya.

Syarat menyusun  alat penilaian
       Membuat pertanyaan tes (alat evaluasi) tidak mudah, sebab tes/pertanyaan merupakan alat untuk melihat perubahan kemampuan dan tingkah laku siswa setelah ia menerima pengajaran dari guru/pengajar di sekolah. Alat evaluasi yang salah, akan menggambarkan kemampuan dan tingkah laku yang salah pula. Oleh karena itu teknik penyusunan alat evaluasi penting dipertimbangkan agar memperoleh hasil yang objektif.
       Beberapa syarat dan petunjuk yang perlu diperhatikan dalam menyusun alat evaluasi, ialah:
1.    Harus menetapkan dulu segi-segi apa yang  akan dinilai, sehingga betul-betul terbatas serta dapat memberi petunjuk bagaimana dan dengan alat apa segi tersebut dapat kita nilai.
2.    Harus menetapkan alat evaluasi yang betul-betul valid dan reliable, artinya taraf ketetapan dan ketetapan tes sesuai dengan aspek yang akan dinilai.
3.    Penilaian harus objektif, artinya menilai prestasi siswa sebagaimana adanya.
4.    Hasil penilaian tersebut harus betul-betul diolah dengan teliti sehingga dapat ditafsir berdasarkan kriteria yang berlaku.
5.    Alat evaluasi yang dibuat hendaknya mengandung unsure diagnosis, artinya dapat dijadikan bahan untuk mencari kelemahan siswa belajar dan guru mengajar.


Penilaian Hasil Belajar Sains

Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar siswa atau ketercapaian kompetensi (rangkaian kemampuan) siswa. Dalam rancangan penilaian hasil belajar Depdiknas, penilaian didefinisikan sebagai proses sistematis  meliputi pengumpulan informasi (angka, deskripsi verbal), analisis, interpretasi informasi untuk membuat keputusan. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar seorang siswa.
Kegiatan penilaian hasil belajar sains dilakukan untuk menafsirkan hasil pengukuran dan menentukan pencapaian hasil belajar sains berdasarkan kriteria tertentu. Umumnya digunakan kategorisasi seperti baik-buruk, benar-salah, sangat setuju-sangat tidak setuju, dan sebagainya.
Pendekatan dalam penilaian pembelajaran biasanya terdiri atas: Penilaian Acuan Norma (Norm-Referenced-PAN) dan Penilaian Acuan Patokan (Criterion-Referenced-PAP). PAN adalah penilaian yang membandingkan hasil pengukuran yang diperoleh orang lain dalam kelompoknya. Sedangkan PAP adalah penilaian berdasarkan patokan atau kriteria tertentu yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Adapun rangkuman ciri-ciri perbandingan kedua-duanya adalah sebagai berikut:
PAP
PAN
KEGUNAAN
Ketuntasan belajar
Pengujian hasil belajar
PENEKANAN UTAMA
Menjelaskan kemampuan menyelesaikan tugas
Mengukur perbedaan individu
INTERPRETASI HASIL
Membandingkan kemampuan dengan kriteria penilaian
Membandingkan antara prestasi peserta didik
KELUASAN ISI
Terfokus pada tugas terbatas
Mencakup isi yang luas
PERENCANAAN TES
Rincian kemampuan yang diukur
Kisi-kisi tes sangat dibutuhkan
PROSEDUR PEMILIHAN BUTIR
Mengikutkan semua butir yang diperlukan , tidak ada pergantian tingkat kesulitan butir atau membuang butir yang mudah
Seleksi butir dengan daya beda tinggi, memperoleh variasi skor yang besar (heterogen), butir mudah dihilangkan
STANDAR HASIL
Penggunaan standar mutlak (menguasai 75% istilah teknis)
Penggunaan standar norma (rangking 5-40 siswa)


Standar Penilaian IPA

Latar belakang disusunnya Standar pendidikan IPA ini adalah karena adanya kebutuhan masyarakat terhadap IPA bukan hanya sekedar ilmu tetapi sebagai sesuatu yang dapat digunakan untuk bertahan hidup (NRC, 1996). Standar penilaian menyediakan kriteria untuk menentukan kualitas  praktik-pratik penilaian. Standar penilaian meliputi lima bidang sebagai berikut:
1. Konsistensi penilaian dengan suatu keputusan merupakan desain untuk informasi
2. Penilaian prestasi dan kesempatan untuk belajar sains
3. Mencocokkan antara kualitas teknis dari kumpulan data dan konsekuensi tindakan yang perlu dilakukan berbasis data tersebut
4.  Kejujuran dalam praktik penilaian
5. Ketepatan penarikan kesimpulan berdasarkan penilaian tentang prestasi siswa dan kesempatan untuk  belajar.
Dalam visi yang dijelaskan oleh National Science Education Standards, penilaian adalah mekanisme umpan balik utama dalam sistem pendidikan sains. Standar penilaian  menyediakan siswa dengan umpan balik tentang seberapa baik mereka memenuhi harapan, guru dengan umpan balik tentang seberapa baik siswa mereka belajar, sekolah dengan umpan balik tentang efektivitas guru dan program mereka, dan pembuat kebijakan dengan umpan balik tentang seberapa baik kebijakan bekerja. Umpan balik ini pada gilirannya merangsang perubahankebijakan, memandu pengembangan profesional guru, dan mendorong siswa untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang IPA.

Pentingnya Penilaian Keterampilan Sains

Dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan oleh guru untuk mengukur perkembangan hasil belajar siswa sebagaimana yang dirumuskan dalam tujuan pembelajaran. Selain itu, penilaian juga dilakukan untuk mendiagnosis kesulitan belajar dan memberikan umpan balik kepada siswa. Dengan demikian, penilaian dilakukan secara terus menerus guna memastikan terjadinya kemajuan dalam belajar siswa. Hasil penilaian yang diperoleh, dapat dijadikan sebagai dasar menentukan keputusan tentang upaya perbaikan pembelajaran. Dalam hal ini upaya bimbingan terhadap siswa, yang diperlukan untuk memperbaiki hasil pembelajaran.
Sains dan mengajarkan siswa tentang sains memiliki arti lebih dari pada pengetahuan ilmiah itu sendiriknowledge.. Menurut Rezba (1999), hThere are three dimensionsal ini disebabkan karena iof science that are all importalmu pengetahuan dikonstruksi atas tiga dimensi penting. The first Pertama of these is the content of science, the basic adalah konten atau isi dari ilmu pengetahuan, konsep dasarconcepts, and our scientific knowledge., dan pengetahuan ilmiah. Dimensi ini merupakan dimensi ilmu pengetahuan yang sangat penting dan umumnya menjadi bahan pemikiran pertama. Kedua adalah The other two important dimensions of sciencprosesof doing science and scientific attitudes. kerja sains, di mana proses sains dalam hal ini adalah keterampilan proses sains yang digunakan para ilmuan dalam proses melakukan sains atau kerja ilmiah. Ketika siswa belajar sains menggunakan pendekatan keterampilan proses sains, maka pada saat yang sama juga belajar tentang keterampilan proses sains.
Dimensi ketiga ilmu pengetahuan adalah sikap ilmiah. Dimensi ini fokus pada sikap dan watak yang menjadi karakter dari sains. Dimensi ini mencakup hal-hal seperti rasa keingintahuan dan kemampuan imajinasi, antusiasme dalam mengajukan pertanyaan dan menyelesaikan masalah. Lebih dari itu, sikap ilmiah yang penting adalah bahwasanya pengetahuan dan teori ilmiah berubah setiap saat berdasarkan perkembangan informasi. Dalam hal ini, siswa menyikapi kebenaran dalam ilmu pengetahuan sebagai kebenaran yang bersifat sementara atau tentatif.
Dalam sifat ketentativan ilmu pengetahuan, guru tidaklah mungkin dapat mengajarkan semua konten dalam ilmu pengetahuan. Siswa dalam keterbatasannya pun tidak mungkin dapat mengetahui semua fakta-fakta yang telah ditemukan oleh para ilmuwan. Oleh karena itu, hal yang paling rasional dapat dilakukan adalah siswa harus memahami metodologi kerja sains dan memiliki keterampilan dalam kerja ilmiah atau keterampilan proses sains. Dengan hal itu, siswa memiliki kompetensi untuk dapat mengembangkan sendiri pengetahuannya. Pada suatu saat, siswa mungkin saja dapat memberi kontribusi dalam perkembangan ilmu pengetahuan.
Keterampilan proses sains dapat dikatakan sebagai kompetensi yang bersifat generik. Keterampilan proses sains memiliki peran yang sangat penting dalam proses pembentukan ilmu pengetahuan.  Dalam hal ini, kemampuan keterampilan proses sains dapat mempengaruhi perkembangan pengetahuan siswa. Membiasakan siswa belajar melalui proses kerja ilmiah, selain dapat melatih detail keterampilan ilmiah dan kerja sistematis, dapat pula membentuk pola berpikir siswa secara ilmiah. Dengan demikian, pengembangan keterampilan proses sains dapat berimplikasi pada pengembangan kemampuan berpikir siswa (high order of thinking).
Oleh karena itu, dalam konteks pembelajaran sains pun harus dirancang sebagaimana desain tiga dimensi sains yaitu konten/produk pengetahuan, proses ilmiah dan sikap ilmiah. Dalam hal ini, pembelajaran sains haruslah mengintegrasikan antara pembelajaran keterampilan kerja ilmiah sebagai proses penemuan dan pembentukan pengetahuan, pembelajaran konsep dasar pengetahuan sains sebagai konten/produk sains, dan pembelajaran sikap ilmiah. Oleh karena pembentukan pengetahuan sains diawali dari proses yang ilmiah, maka pembelajaran sains pun harus diletakkan dan ditekankan lebih awal pada kemampuan keterampilan proses sains siswa. Dengan demikian, perkembangan kemampuan keterampilan proses siswa memiliki peran yang sama penting dan terintegrasi dengan penguasaan pengetahuan sains dan sikap ilmiah.

Aspek Penilaian
Tujuan IPA adalah menguasai pengetahuan IPA, memahami dan menerapkan konsep IPA, menerapkan keterampilan proses, dan mengembangkan sikap. Tujuan penilaian ini sejalan dengan tiga aspek dalam kerangka kurikulum IPA seperti ditunjukkan di bawah:
1. Penilaian Pengetahuan, pemahaman dan penerapan konsep IPA
2. Penilaian Keterampilan dan Proses
3. Penilaian karakter dan sikap (sikap ilmiah)

Penjelasan ketiga jenis penilaian tersebut di atas adalah sebagai berikut:
1. Penilaian Pengetahuan, Pemahaman dan Penerapan Konsep IPA
Penilaian pengetahuan IPA merupakan produk dari pembelajaran IPA. Penilaian ini bertujuan untuk melihat penguasaan peserta didik terhadap fakta,konsep, prinsip, dan hukum-hukum dalam IPA dan penerapannya dalamkehidupan. Peserta didik diharapkan dapat menggunakan pemahamannyatersebut untuk membuat keputusan, berpartisipasi di masyarakat, danmenanggapi isu-isu lokal dan global.

2. Penilaian Keterampilan Proses
Penilaian dilakukan tidak hanya terhadap produk, tetapi juga proses.Penilaian proses IPA dilakukan terhadap keterampilan proses IPA, meliputi keterampilan dasar IPA dan keterampilan terpadu tingkat awal. Keterampilanproses IPA dasar meliputi observasi, inferensi, melakukan pengukuran,menggunakan bilangan, klasifikasi, komunikasi, dan prediksi. Di samping itu,peserta didik mulai diperkenalkan dengan kemampuan melakukan percobaansederhana dengan dua variabel atau lebih untuk menguji hipotesis tentanghubungan antar variabel. Peserta didik juga dilatih mengkomunikasikan hasilbelajarnya melalui berbagai bentuk sepeti debat, diskusi, presentasi, tulisan, dan bentuk ekspresif lainnya. Dari berbagai keterampilan proses ilmiah,

3. 3. Penilaian sikap
Penilaian sikap ilmiah meliputi sikap obyektif, terbuka, tidak menerima begitusaja sesuatu sebagai kebenaran, ingin tahu, ulet, tekun, dan pantang menyerah. Selain itu, kemampuan bekerjasama, bertukar pendapat, mempertahankan pendapat, menerima saran, dan kemampuan sosial lainnya dapat juga dilakukanmelalui pembelajaran IPA.


Dari uraian yang telah disampaikan, penulis mengajukan 3 pertanyaan, yaitu :

1.          Apakah yang menjadi pertimbangan guru dalam memberi penilaian pada pembelajaran sains terhadap siswa ?
2.        Apakah yang menyebabkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah berbeda-beda ?
3.        Apakah makna penilaian bagi guru dan siswa ?


Komentar

  1. Menyikapi pertanyaan yg no 3?
    1.Makna bagi siswa.
    Melalui penilaian,siswa dapat mengetahui sejauhmana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Apakah siswa merasa puas atau tidak puas atas hasil yang diperolehnya.
    2.Makna bagi guru
    Dapat mengetahui siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya dan siswa mana yang belum berhasil menguasai bahan.
    Guru dapat mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa atau belum, apabila materi tepat maka diwaktu akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
    Guru akan mengetahui metode yang digunakan sudah tepat atau belum. Jika hasil yang diperoleh sebagian besar siswa mendapatkan nilai bagus maka metode sudah tepat sebaliknya bila sebagian besar hasil yang diperleh siswa buruk maka metode yang digunakan harus dipertimbangkan kembali dan kalau perlu diganti.

    BalasHapus
  2. Assalamualaikum wr wb,
    Terkait pertanyaan pertama menurut saya yg perlu dipertimbangkan guru dalam penilaian sains adalah tujuan pembelajarannya terlebih dahulu,lalu memilih instrumen, setelah tau instrumen maka maksimalkan dalam memperhatikan pbm, selanjutnya adil dalam melakukan penilain,dll. Terimakasih

    BalasHapus
  3. Menanggapi soal no 3.
    saya sangat setuju sekali dengan apa yang telah di paparkan oleh saudari meri mengenai makna penilaian bagi guru dan siswa. Di sini saya ingin menambahkan pemaparan tentang hal itu.

    A.makna penilaian bagi guru
    Dengan melaksanakan penilaian, guru akan memperoleh data tentang kemajuan belajar siswa.
    Guru akan mengetahui apakah materi yang diajarkannya sudah sesuai atau tidak dengan kemampuan siswa, sehingga dapat dijadikan pertimbangan untuk menentukan materi pelajaran selanjutnya.
    Dengan melaksanakan penilaian guru akan dapat mengetahi apakah metode mengajar yang digunakannya sudah sesuai atau tidak.
    Hasil penilaian dapat dimanfaatkan guru untuk melaporkan kemajuan belajar siswa kepada orang tua/wali siswa.

    B. Makna penilaian bagi siswa
    Hasil penilaian dapat menjadi pendorong siswa agar belajar lebih giat.
    Hasil penilaian dapat dimanfaatkan siswa untuk mengetahui kemajuan belajarnya.
    Hasil penilaian merupakan data tentang apakah cara belajar yang dilaksanakannya sudah tepat atau belum.

    BalasHapus
  4. Assalamualaikum wr wb
    Menanggapi pertanyaan no 3. Makna penilaian bagi guru berdasakan beberapa sumber yang saya baca, dimana hasil penilaian yang diperoleh oleh guru akan dapat digunakan mengetahui kemampuan siswa, ketuntasan belajar siswa, siswa yang berhasil & tidak berhasi menguasi materi ajar, untuk mengetahui sejauah mana keberhasilan program atau rencana pembelajaran yang dirancang oleh guru, seberapa besar ketercapaian tujuan pembelajaran dan dijadikan bahan refleksi oleh guru.

    BalasHapus
  5. Assalamualaikum wr.wb
    Saya mencoba menanggapi pertanyaan no 2.
    Nilai KKM diambil dari penilaian terhadap kompleksitas materi, daya dukung pembelajaran, serta intake (kemampuan) siswa. Kesemuanya diramu dari tingkat indikator, kompetensi dasar, standar kompetensi, hingga jadilah KKM mata pelajaran yang tertera di rapor siswa.Perhitungan KKM haruslah benar-benar objektif sesuai dengan kondisi pembelajaran di sekolah karena KKM juga berkaitan dengan standar evaluasi yang digunakan. Jadi, tak bisa KKM didapat dengan cara ditebak, sesuai kehendak guru, atau atas dasar permintaan Kepala Sekolah
    Terima kasih

    BalasHapus
  6. saya akan mencoba menjawab pertanyaan no 3.
    menurut sya Makna penilaian bagi siswa yaitu siswa dapat mengetahui sejauh mana mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru serta sejauh mna hasil yg telah didapat oleh siswa.
    kemudian Makna penilaian bagi guru yaitu guru akan dapat mengetahui kemampuan siswa.Guru mengetahui apa materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa sehingga untuk memberikan pengajaran diwaktu yang akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
    Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum. terimakasih ^_^

    BalasHapus
  7. saya akan menanggapi pertanyaan sdri.Tiara menegnai: Apakah yang menyebabkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah berbeda-beda ?

    -menurut saya, mengapa KKM tip sekolah itu berbeda karena penentuan score KKM sekolah itu dipengaruhi oleh daya dukung pembelajaran yang meliputi profesionalisme guru, kelengkapan sarana dan prasarana, serta manajemen sekolah. Selain itu harus melihat pula apakah intake siswa memang tinggi dan apakah kompleksitas materi yang diajarkan rendah sehingga siswa akan dengan mudah mempelajarinya. maka dengan demikian hal tsb akan menjadi bahan pertimbangan bagi forum MGMP sekolah dalam menetapkan score KKM. setiap sekolah pasti memiliki situasi dan kondisi yang berbeda-beda, oleh karena itu lah score KKM itu juga berbeda di tiap sekolah.

    terima kasih.

    BalasHapus
  8. Apakah makna penilaian bagi guru dan siswa ?
    menanggapi hal ini, bagi guru.. penilaian adalah sarana mengetahui ke efektifan guru dalam mengajar, keterampilan dan kecakapan, sehingga dapat jadi acuan untuk perbaikan dalam proses belajar selanjutnya, bagi siswa... penilaian dijadikan motivasi untuk lebih baik dalam proses pembelqajran, dimana proses belajar mereka yang baik akan menetukan hasil yang baik pula.

    BalasHapus
  9. Apakah yang menyebabkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah berbeda-beda ?
    yang membedakan KKM antar sekolah sangat dipengaruhi oleh sarana prasarana, cara guru mengajar dan pertemuan antar guru untuk menyamakan pendapat untuk penilaian terhadap siswa yang di ajar dan ditunjang oleh kepala sekolah dan komite sekolahnya.

    Salam
    Agung Laksono

    BalasHapus
  10. Assalamualaikum, saya akan menanggapi pertanyaan yang ketiga tentang makna penilaian bagi guru dan siswa. Bagi siswa, Dengan diadakanya penilaian, maka siswa dapat mengetahui sejauh mana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Hasil yang diperoleh siswa dari perkerjaan menilai ini ada 2 kemungkinan yaitu memuaskan dan tidak memuaskan.

    b. Makna bagi guru:
    1. Dengan hasil penilaian yang diperoleh guru akan dapat mengetahui kemampuan siswa.Dengan petunjuk ini guru dapat lebih memusatkan perhatianya kepada siswa-siswa yang belum berhasil.
    2. Guru mengetahui apa materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa sehingga untuk memberikan pengajaran diwaktu yang akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
    3. Guru akan mengetahui apakah metode yang digunakan sudah tepat atau belum

    BalasHapus
  11. Menanggapi pertanyaan nomor 3.1. Makna bagi siswa.
    Melalui penilaian, siswa dapat mengetahui sejauhmana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Apakah siswa merasa puas atau tidak puas atas hasil yang diperolehnya. Bila hasilnya memuaskan akan menyenangkan dan dapat memotivasi siswa untuk belajar lebih giat lagi sementara bila hasil tidak memuaskan maka ia akan berusaha agar penilaian berikutnya memperoleh hasil yang memuaskan.

    2. Makna bagi guru
    Berdasarkan hasil penilaian, bagi guru dapat:
    Dapat mengetahui siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya dan siswa mana yang belum berhasil menguasai bahan.
    Guru dapat mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa atau belum, apabila materi tepat maka diwaktu akan datang tidak perlu diadakan perubahan.
    Guru akan mengetahui metode yang digunakan sudah tepat atau belum. Jika hasil yang diperoleh sebagian besar siswa mendapatkan nilai bagus maka metode sudah tepat sebaliknya bila sebagian besar hasil yang diperleh siswa buruk maka metode yang digunakan harus dipertimbangkan kembali dan kalau perlu diganti.
    Terimakasih

    BalasHapus
  12. terima kasih menjawab nmor 2 Apakah yang menyebabkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah berbeda-beda ?
    1. Menetapkan KKM setiap kompetensi dasar (KD), yang menggunakan kriteria analisis dengan mempertimbangkan aspek karakteristik peserta didik (intake), karakteristik mata pelajaran (kompleksitas materi/kompetensi), serta guru dan kondisi satuan pendidikan (daya dukung);
    2. Menetapkan KKM mata pelajaran yang merupakan rata-rata dari semua KKM kompetensi dasar yang terdapat dalam satu mata pelajaran;
    3. Menetapkan KKM pada tingkatan kelas yang merupakan rata-rata dari semua KKM mata pelajaran pada setiap tingkatan kelas; dan
    4. Menetapkan KKM satuan pendidikan yang merupakan rata-rata dari semua KKM pada setiap tingkatan kelas dalam satu semester atau satu tahun pembelajaran.
    poin-poin inilah yang membuat KKM disetiap sekolah berbeda-beda.

    BalasHapus
  13. Assalamualaikum
    Saya akan menjawab pertanyaan no 3.
    makna nilai bagi guru yaitu:
    1. Dapat mengetahui siswa mana yang sudah berhak melanjutkan pelajarannya dan siswa mana yang belum berhasil menguasai bahan.
    2. Guru dapat mengetahui apakah materi yang diajarkan sudah tepat bagi siswa atau belum.
    3. Guru akan mengetahui metode yang digunakan sudah tepat atau belum.
    Makna nilai bagi siswa yaitu:
    Melalui penilaian, siswa dapat mengetahui sejauhmana telah berhasil mengikuti pelajaran yang diberikan oleh guru. Apakah siswa merasa puas atau tidak puas atas hasil yang diperolehnya

    BalasHapus
  14. menanggapi pertanyaan no 2

    Apakah yang menyebabkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah berbeda-beda ?

    Nilai KKM diambil dari penilaian terhadap kompleksitas materi, daya dukung pembelajaran, serta intake (kemampuan) siswa. Kesemuanya diramu dari tingkat indikator, kompetensi dasar, standar kompetensi, hingga jadilah KKM mata pelajaran yang tertera di rapor siswa.

    Perhitungan KKM haruslah benar-benar objektif sesuai dengan kondisi pembelajaran di sekolah karena KKM juga berkaitan dengan standar evaluasi yang digunakan. Jadi, tak bisa KKM didapat dengan cara ditebak, sesuai kehendak guru, atau atas dasar permintaan Kepala Sekolah. Misalkan karena sekolahnya favorit maka KKM-nya harus diatas 80 pada setiap mata pelajaran. Padahal secara penilaian sesungguhnya (perhitungan) bisa saja tidak sampai 80. Misalnya mungkin kompleksitas materi yang dipelajari dianggap sangat mudah sehingga diperkirakan siswa dapat mencapai nilai di atas 80. itulah penyebab nilai KKM disekolah berbeda-beda.

    BalasHapus
  15. Apakah yang menyebabkan Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) di sekolah berbeda-beda ? karena adanya perbedaan kondisi pembelajaran disekolah Nilai KKM diambil dari penilaian terhadap kompleksitas materi, daya dukung pembelajaran, serta intake (kemampuan) siswa. Kesemuanya diramu dari tingkat indikator, kompetensi dasar, standar kompetensi

    BalasHapus

Posting Komentar