MODEL
– MODEL PEMBELAJARAN KHAS SAINS
Pengertian Model Pembelajaran
Model pembelajaran adalah bentuk pembelajaran
yang tergambar dari awal sampai akhir yang disajikan secara khas oleh guru.
Dengan kata lain, model pembelajaran merupakan bungkus atau bingkai dari
penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran.
Adapun pandangan teori pemodelan tingkah laku,
mengisyaratkan bahwa :
1. manusia dapat belajar dari contoh
(model) sebelum melakukan tingkah laku yang dimodelkan itu.
2. tingkah laku yang akan dilakukan
dengan baik apabila tingkah laku tersebut jelas dan tidak terlalu kompleks
3. pemberian kesempatan kepada siswa
untuk melatih keterampilan-keterampilan baru merupakan hal yang sangat penting(Arends,
1997).
Model Pembelajaran Khas Sains
Model pembelajaran merupakan bingkai dari
penerapan suatu pendekatan, metode, dan teknik pembelajaran. Ada banyak model
pembelajaran dan beberapa yang disarankan di dalam kurikulum 2013 diantaranya
adalah:
1.
Model Inquiry
Learning
Model pembelajaran
Inkuiri biasanya lebih cocok digunakan pada pembelajaran matematika, tetapi
mata pelajaran lainpun dapat menggunakan model tersebut asal sesuai dengan
karakteristik KD atau materi pembelajarannya. Langkah-langkah dalam model
inkuiri terdiri atas:
a.
Observasi/Mengamati berbagi
fenomena alam. Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar kepada peserta didik
bagaimana mengamati berbagai fakta atau fenomena dalam mata pelajaran tertentu.
b.
Mengajukan pertanyaan tentang
fenomana yang dihadapi. Tahapan ini melatih peserta didik untuk mengeksplorasi
fenomena melalui kegiatan menanya baik terhadap guru, teman, atau melalui
sumber yang lain.
c.
Mengajukan dugaan atau kemungkinan
jawaban. Pada tahapan ini peserta didik dapat mengasosiasi atau melakukan
penalaran terhadap kemungkinan jawaban dari pertanyaan yang diajukan.
d.
Mengumpulkan data yang terkait
dengan dugaan atau pertanyaan yang diajukan, sehingga pada kegiatan tersebut
peserta didik dapat memprediksi dugaan atau yang paling tepat sebagai dasar
untuk merumuskan suatu kesimpulan.
e.
Merumuskan kesimpulan-kesimpulan
berdasarkan data yang telah diolah atau dianalisis, sehingga peserta didik
dapat mempresentasikan atau menyajikan hasil temuannya.
Kelebihan
dan Kelemahan Pendekatan IBL
Dalam pembelajaran dengan menggunakan
metode ceramah, guru lebih aktif sebagai pemberi pengetahuan bagi siswa, guru
dianggap sebagai sumber informasi, sedangkan siswa hanya sebagai subjek yang
harus menerima materi pelajaran yang diberikan oleh guru. Akibatnya siswa
memiliki banyak pengetahuan tetapi tidak pernah dilatih untuk menemukan
pengetahuan dan konsep sehingga siswa
cenderung lebih cepat bosan dalam mengikuti pelajaran, serta cepat lupa dengan
materi pelajaran yang diajarkan. Masalah demikian dapat diatasi dengan cara
menerapkan model pembelajaran dengan pendekatan IBL dalam kegiatan
pembelajaran, karena dengan pendekatan ini siswa dilibatkan secara aktif dalam
kegiatan. Dari uraian diatas dapat diketahui bahwa model pembelajaran IBL
mempunyai banyak kelebihan dibandingkan dengan metode ceramah.
Adapun
kelebihan model pembelajaran dengan pendekatan IBL ini adalah:
a. Dapat membentuk dan mengembangkan
“self-concept” pada diri siswa, sehingga siswa dapat mengerti tentang konsep
dasar dan ide-ide lebih baik.
b. Membantu dalam menggunakan ingatan dan
transfer pada situasi proses belajar yang aru.
c. Mendorong siswa berpikir dan bekerja atas
inisiatifnya sendiri, bersikap byektif, jujur dan terbuka.
d. Mendorong siswa untuk berpikir intuitif dan merumuskan
hipotesisnya sendiri.
e. Memberi kepuasan yang bersifat intrinsik.
f. Situasi proses belajar menjadi merangsang.
g. Dapat mengembangkan bakat atau kecakapan
individu.
h. Memberi kebebasan siswa untuk belajar
sendiri.
i. Siswa dapat menghindari dari cara-cara
belajar yang tradisional.
j.
Dapat memberikan waktu pada siswa secukupnya sehingga mereka dapat mengamilasi
dan mengakomodasi informasi.
Kekurangan
pendekatan IBL adalah:
a. Diharuskan adanya kesiapan mental pada siswa.
b.
Perlu adanya proses penyesuaian/adaptasi dari metode tradisional ke pendekatan
ini.
2.
Model Discovery
Learning.
Model
pembelajaran discovery Learning
merupakan sebuah teori pembelajaran yang diartikan sebagai bentuk proses belajar
yang terjadi jika siswa tidak disuguhkan
dengan pelajaran dalam bentuk akhirnya, akan tetapi diharapkan untuk mengorganisasi sendiri. Berikut merupakan tahap-tahap
pembelajaran discovery learning :
a.
Stimulation (memberi stimulus).
Pada kegiatan ini guru memberikan stimulan, dapat berupa bacaan, atau gambar,
atau situasi, sesuai dengan materi pembelajaran/topik/tema yang akan dibahas,
sehingga peserta didik mendapat pengalaman belajar mengamati pengetahuan
konseptual melalui kegiatan membaca, mengamati situasi atau melihat gambar.
b.
Problem Statement (mengidentifikasi
masalah). Dari tahapan tersebut, peserta didik diharuskan menemukan
permasalahan apa saja yang dihadapi, sehingga pada kegiatan ini peserta didik
diberikan pengalaman untuk menanya, mencari informasi, dan merumuskan masalah.
c.
Data Collecting (mengumpulkan
data). Pada tahapan ini peserta didik diberikan pengalaman mencari dan
mengumpulkan data/informasi yang dapat digunakan untuk menemukan solusi
pemecahan masalah yang dihadapi. Kegiatan ini juga akan melatih ketelitian,
akurasi, dan kejujuran, serta membiasakan peserta didik untuk mencari atau
merumuskan berbagai alternatif pemecahan masalah, jika satu alternatif
mengalami kegagalan.
d.
Data Processing (mengolah data).
Kegiatan mengolah data akan melatih peserta didik untuk mencoba dan
mengeksplorasi kemampuan pengetahuan konseptualnya untuk diaplikasikan pada
kehidupan nyata, sehingga kegiatan ini juga akan melatih keterampilan berfikir
logis dan aplikatif.
e.
Verification (memferifikasi).
Tahapan ini mengarahkan peserta didik untuk mengecek kebenaran atau keabsahan
hasil pengolahan data, melalui berbagai kegiatan, antara lain bertanya kepada
teman, berdiskkusi, atau mencari sumber yang relevan baik dari buku atau media,
serta mengasosiasikannya sehingga menjadi suatu kesimpulan.
f.
Generalization (menyimpulkan). Pada
kegiatan ini peserta didik digiring untuk menggeneralisasikan hasil simpulannya
pada suatu kejadian atau permasalahan yang serupa, sehingga kegiatan ini juga
dapat melatih pengetahuan metakognisi peserta didik.
Kelebihan model
pembelajaran Discovery learning :
1.
Mendukung partisipasi aktif
pembelajar dalam proses pembelajaran.
2.
Menumbuhkan rasa ingin tahu
pembelajar
3.
Memungkinkan perkembangan
keterampilan-keterampilan belajar sepanjang hayat dari pembelajar.
4.
Membuat pengalaman belajar menjadi
lebih bersifat personal
5.
Membuat pembelajar memiliki
motivasi yang tinggi karena memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan
eksperimen dan menemukan sesuatu untuk diri mereka sendiri.
Kekurangan
model Discovery Learning :
1.
kadangkala terjadi kebingungan pada
para pembelajar ketika tidak disediakan semacam kerangka kerja, dan semacamnya.
2.
terbentuknya miskonsepsi
3.
pembelajar yang lemah mempunyai
kecenderungan untuk belajar di bawah standar yang diinginkan, dan guru
seringkali gagal mendeteksi pembelajar semacam ini (bahwa mereka membutuhkan
remedi dan scaffolding)
3. Model Pembelajaran Problem Based Learning
Problem
Based Learning (PBL) adalah metode pengajaran yang bercirikan adanya
permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berfikir
kritis dan keterampilan memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan
(Duch,1995).
Langkah-langkah
atau sintaks nya adalah sebagai berikut:
·
Orientasi pada masalah; mengamati
masalah yang menjadi objek pembelajaran.
·
Pengorganisasian kegiatan
pembelajaran; menyampaikan berbagai pertanyaan (atau menanya) terhadap
malasalah kajian.
·
Penyelidikan mandiri dan kelompok;
melakukan percobaan (mencoba) untuk memperoleh data dalam rangka menyelesaikan
masalah yang dikaji.
·
Pengembangan dan Penyajian hasil;
mengasosiasi data yang ditemukan dengan berbagai data lain dari berbagai
sumber.
·
Analisis dan evaluasi proses
pemecahan masalah;
Kelebihan
:
a.
Melalui pemecahan masalah bisa
memperlihatkan kepada siswa bahwa setiap mata pelajaran (matematika, IPA,
sejarah, dan lain sebagainya), pada dasarnya merupakan cara berfikir, dan sesuatu yang harus
dimengerti oleh siswa, bukan hanya sekedar belajar dari guru atau dari
buku-buku saja.
b.
Pemecahan masalah dapat
mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir kritis dan mengembangkan kemampuan
mereka untuk menyesuaikan dengan pengetahuan baru
c.
Pemecahan masalah dapat memberikan
kesempatan pada siswa yang mengaplikasikan pengetahuan yang mereka miliki dalam
dunia nyata.
Kekurangan
:
a.
Manakala siswa tidak memiliki minat
atau tidak memiliki kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk
dipecahkan, maka mereka akan merasa enggan untuk mencoba
b.
Keberhasilan strategi pembelajaran
malalui Problem Based Learning membutuhkan cukup waktu untuk persiapan
c.
Tanpa pemahaman mengapa mereka
berusaha untuk memecahkan masalah yang sedang dipelajari, maka mereka tidak
akan belajar apa yang mereka ingin pelajari.
4.
Project Based
Learning
Model pembelajaran ini bertujuan
untuk pembelajaran yang memfokuskan pada permasalahan komplek yang diperlukan
peserta didik dalam melakukan insvestigasi dan memahami pembelajaran melalui
investigasi, membimbing peserta didik dalam sebuah proyek kolaboratif yang
mengintegrasikan berbagai subjek (materi) dalam kurikulum, memberikan
kesempatan kepada para peserta didik untuk menggali konten (materi) dengan
menggunakan berbagai cara yang bermakna bagi dirinya, dan melakukan eksperimen
secara kolaboratif.
Langkah
pembelajaran dalam project based learning adalah sebagai berikut:
a.
Menyiapkan pertanyaan atau
penugasan proyek. Tahap ini sebagai langkah awal agar peserta didik mengamati
lebih dalam terhadap pertanyaan yang muncul dari fenomena yang ada.
b.
Mendesain perencanaan proyek.
Sebagai langkah nyata menjawab pertanyaan yang ada disusunlah suatu perencanaan
proyek bisa melalui percobaan.
c.
Menyusun jadwal sebgai langkah
nyata dari sebuah proyek. Penjadwalan sangat penting agar proyek yang
dikerjakan sesuai dengan waktu yang tersedia dan sesuai dengan target.
d.
Memonitor kegiatan dan perkembangan
proyek. Guru melakukan monitoring terhadap pelaksanaan dan perkembangan proyek.
Peserta didik mengevaluasi proyek yang sedang dikerjakan.
e.
Menguji hasil. Fakta dan data
percobaan atau penelitian dihubungkan dengan berbagai data lain dari berbagai
sumber.
f.
Mengevaluasi kegiatan/pengalaman.
Tahap ini dilakukan untuk mengevaluasi kegiatan sebagai acuan perbaikan untuk
tugas proyek pada mata pelajaran yang sama atau mata pelajaran lain.
Kelebihan :
a.
Memberikan pengalaman kepada
peserta didik pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat
alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan
tugas.
b.
Menyediakan pengalaman belajar yang
melibatkan peserta didik secara kompleks dan dirancang untuk berkembang sesuai
dunia nyata.
c.
Melibatkan para peserta didik untuk
belajar mengambil informasi dan menunjukkan pengetahuan yang dimiliki, kemudian
diimplementasikan dengan dunia nyata.
d.
Membuat suasana belajar menjadi
menyenangkan, sehingga peserta didik maupun pendidik menikmati proses
pembelajaran.
Kekurangan
:
a.
Memerlukan banyak waktu untuk
menyelesaikan masalah.
b.
Membutuhkan biaya yang cukup banyak
c.
Banyak instruktur yang merasa
nyaman dengan kelas tradisional, di mana instruktur memegang peran utama di
kelas.
d.
Banyaknya peralatan yang harus
disediakan.
e.
Peserta didik yang memiliki
kelemahan dalam percobaan dan pengumpulan informasi akan mengalami kesulitan.
f.
Ada kemungkinanpeserta didikyang
kurang aktif dalam kerja kelompok.
g.
Ketika topik yang diberikan kepada masing-masing
kelompok berbeda, dikhawatirkan peserta didik tidak bisa memahami topik secara
keseluruhan
Dari uraian yang
telah disampaikan, penulis ingin menanyakan beberapa pertanyaan :
1. Selain dari 4 model pembelajaran
khusus sains yang telah diuraikan, adakah model pembelajaran lain yang bias diterapkan
pada pembelajaran sains ?
2.
Dari uraian model pembelajaran yang
telah dijabarkan diatas, apakah bisa diterapkan pada kurikulum 2013 ?
3.
Bagimanakah cara seorang guru
mengatasi kelemahan dari model pembelajaran berbasis proyek (Project based
learning) ?
2. Dari uraian model pembelajaran yang telah dijabarkan diatas, apakah bisa diterapkan pada kurikulum 2013 ?
BalasHapusSecara Teori sangat bisa, karena model model pembelajaran tersebut disarankan dalam kurikulum 2013. Kemudian tergantung kompetensi guru dalam menerapkannya di.kelas,.
Assalamualaikum wr.wb
BalasHapusSaya mencoba menjawab pertanyaan yang pertama.
seperti yang telah kita pelajari di pembelajaran ipa terpadu.disana ada 10 model pembelajaran bisa di gunakan yaitu
(1) fragmented, (2) connected, (3) nested, (4) sequenced, (5) shared, (6) webbed, (7) threaded, (8) integrated, (9) immersed, dan (10) networked.
Tergantung guru memilih model yang akan digunakan dan harus di sesuaikan dengan materi yang akan di ajarkan
Terima kasih
Menanggapi pertanyaan no 1.
BalasHapusMenurut saya selain ke 4 model di atas, ada bbrapa model lain yang bisa di terapkan dalam pembelajaran sains, salah satunya yaitu :Konstruktivisme (constructivism).
Kontruktivisme merupakan landasan berpikir CTL, yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghafal, mengingat pengetahuan tetapi merupakan suatu proses belajar mengajar dimana siswa sendiri aktif secara mental membangun pengetahuannya, yang dilandasi oleh struktur pengetahuan yang dimilikinya.
Saya akan menanggapi pertanyaan no 2 apakah bisa diterapkan pada kurikulum 2013 ? berdasarkan sumber yang saya baca pada Kurikulum 2013 menggunakan 3 (tiga) model pembelajaran utama (Permendikbud No. 103 Tahun 2014) yang diharapkan dapat membentuk perilaku saintifik, perilaku sosial serta mengembangkan rasa keingintahuan. Ketiga model tersebut adalah: model Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning), model Pembelajaran Berbasis Projek (Project Based Learning), dan model Pembelajaran Melalui Penyingkapan/Penemuan (Discovery/Inquiry Learning). Jadi tentu saja model pembelajaran di atas sangat baik diterapkan pada K13.
BalasHapus3. Bagimanakah cara seorang guru mengatasi kelemahan dari model pembelajaran berbasis proyek (Project based learning) ?
BalasHapusUntuk mengatasi kelemahan dari Pembelajaran Berbasis Proyek tersebut di atas, seorang pendidik harus dapat mengatasi dengan cara: Menfasilitasi peserta didik dalam menghadapi masalah, membatasi waktu peserta didik dalam menyelesaikan proyek, meminimalisir dan menyediakan peralatan yang sederhana yang terdapat lingkungan sekitar, memilih lokasi penelitian yang mudah dijangkau sehingga tidak membutuhkan banyak waktu dan biaya, dan menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan sehingga instruktur dan peserta didik merasa nyaman dalam proses pembelajaran.
Salam
Agung Laksono
Dari uraian model pembelajaran yang telah dijabarkan diatas, apakah bisa diterapkan pada kurikulum 2013 ? iya bisa diterapkan karena semuanya sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013
BalasHapusAssalamualaikum.. Saya akan menanggapi pertanyaan saudara nomor 1 yaitu dimana dari keempat model apakah ada lagi model lain bisa diterapkan dalam Sains ?
BalasHapusjawaban saya adalah ada dari buku yang saya baca yaitu Lufri : Strategi Pembelajaran Biologi dan saya publish di blog saya .
1. Model STS
2. Model Pembelajaran Konstruktivistik
3. Model Pembelajaran CTL
Terima Kasih, Wasalamualaikum
2.Dari uraian model pembelajaran yang telah dijabarkan diatas, apakah bisa diterapkan pada kurikulum 2013 ?
BalasHapusmenurut tanggapan saya ke 4 model pembelajaran tersebut bisa di terapkan ke kurikulum 2013, karena ke 4 model tersebut menitik beratkan kepada kreatifitas dan kemandirian siswa itu sendiri sedangkan di kurikulum 2013 memang di tuntut untuk meningkatkan kriatifitas dan kemandirian siswa dalam belajar sedangkan guru sebagai fasilitatornya.
Assalamualaikum wr wb
BalasHapusSaya menanggapi pertanyaan no 3. Menurut saya guru dapat mengatasi kelemahan dari model pembelajaran berbasis proyek (Project based learning) dengan cara memberikan pemahaman kepada siswa dengan cara yang sesederhana mungkin yang kiranya dapat dipahami oleh siswa dengan mudah, ketika merencanakan kerja proyek diusahakan guru kreatif & inovatif untuk memanfaatkan peralatan & bahan yang berada disekitar lingkungan siswa sehingga tidak mengeluarkan biaya yang terlalu banyak, guru merencanakan kerja proyek yang nantinya dapat meminimalisirkan waktu dan melibatkan semua siswa aktif dengan kegiatan belajar yang menyenangkan.