Model dan Evaluasi Pembelajaran Sains

MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF DAN KONTEKSTUAL


 1.     Model Pembelajaran Kolaboratif

Pembelajaran kolaboratif (collaborative learning) adalah proses pembelajaran yang dilakukan bersama-sama antara guru dengan siswanya. Guru pada hakikatnya adalah pembelajar senior yang harus mentransformasikan pengalaman belajarnya pada pembelajar junior. Guru harus membantu berbagai kesulitan yang dihadapi oleh para siswa. Demikian pula, antara siswa dengan siswa lainnya. Dalam konteks ini, peer teaching atau tutorial sebaya menjadi bagian penting, yang keuntungannya tidak semata untuk yang diajari tetapi juga untuk yang mengajari, karena siswa yang mengajari temannya akan semakin matang penguasaannya, sementara siswa yang diajari akan memperoleh bantuan teman sebayanya dalam proses pemahaman bahan ajar yang mereka dipelajari. Hakikatnya, pembelajaran kolaboratif yakni belajar yang saling membantu antara guru dengan siswa, dan antara siswa dengan siswa lainnya. Pembelajaran kolaboratif telah menambah momentum pendidikan formal dan informal dari dua kekuatan yang bertemu, yaitu:
1.   Realisasi praktek, bahwa hidup di luar kelas memerlukan aktivitas kolaboratif dalam kehidupan di dunia nyata;
2.   Menumbuhkan kesadaran berinteraksi sosial dalam upaya mewujudkan pembelajaran bermakna.

Metode kolaboratif didasarkan pada asumsi-asumsi mengenai siswa proses belajar sebagai berikut (Smith & MacGregor, 1992):

1.      Belajar itu aktif dan konstruktif

Untuk mempelajari bahan pelajaran, siswa harus terlibat secara aktif dengan bahan itu. Siswa perlu mengintegrasikan bahan baru ini dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. Siswa membangun makna atau mencipta sesuatu yang baru yang terkait dengan bahan pelajaran.

2.      Belajar itu bergantung konteks
Kegiatan pembelajaran menghadapkan siswa pada tugas atau masalah menantang yang terkait dengan konteks yang sudah dikenal siswa. Siswa terlibat langsung dalam penyelesaian tugas atau pemecahan masalah itu.

3.      Siswa itu beraneka latar belakang
Para siswa mempunyai perbedaan dalam banyak hal, seperti latarbelakang, gaya belajar,        pengalaman, dan aspirasi. Perbedaan-perbedaan itu diakui dan diterima dalam kegiatan                kerjasama, dan bahkan diperlukan untuk meningkatkan mutu pencapaian hasil bersama               dalam proses belajar.

4.      Belajar itu bersifat sosial
Proses belajar merupakan proses interaksi sosial yang di dalamnya siswa membangun makna yang diterima bersama.

Tujuan utama penggunaan pembelajaran kolaboratif dalam proses pembelajaran

  1. Mendorong siswa untuk berkomunikasi satu sama lain, menyatakan respon pada pertanyaan, dan menyampaikan pendapat yang berbeda serta memberi kesimpulan.
  2. Memberikan tanggung jawab belajar karena siswa dituntut memecahkan masalah dalam kelompok
  3. Dapat mencakup materi yang lebih banyak, dengan aktifnya siswa mengupas materi dan bertukar pendapat dalam kelas sehingga dapat memperbanyak materi yang dimiliki siswa
  4. Meningkatkan pembelajaran murid karena adanya dukungan sosial (kerja kelompok) sehingga dapat meningkatkan motivasi belajar siswa
  5. Membangun rasa percaya diri dan mandiri kepada siswa.
  6. Memiliki pengalaman bekerja dalam kelompok.

Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif
    1.      Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
    2.      Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis..
  3.      Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
   4.      Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
  5.      Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
   6.      Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
  7.      Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
    8.      Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.

Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif

Ada banyak macam pembelajaran kolaboratif yang pernah dikembangkan oleh para ahli maupun praktisi pendidikan, teristimewa oleh para ahli Student Team Learning pada John Hopkins University. Tetapi hanya sekitar sepuluh macam yang mendapatkan perhatian secara luas, yaitu:

  1. Learning Together
Dalam metode ini kelompok-kelompok sekelas beranggotakan siswa-siswa yang beragam kemampuannya. Tiap kelompok bekerjasama untuk menyelesaikan tugas yang diberikan oleh guru. Satu kelompok hanya menerima dan mengerjakan satu set lembar tugas. Penilaian didasarkan pada hasil kerja kelompok.
2.                  Teams-Games-Tournament (TGT)
Setelah belajar bersama kelompoknya sendiri, para anggota suatu kelompok akan berlomba dengan anggota kelompok lain sesuai dengan tingkat kemampuan masing-masing. Penilaian didasarkan pada jumlah nilai yang diperoleh kelompok.
3.                  Group Investigation (GI)
Semua anggota kelompok dituntut untuk merencanakan suatu penelitian beserta perencanaan pemecahan masalah yang dihadapi. Kelompok menentukan apa saja yang akan dikerjakan dan siapa saja yang akan melaksanakannya berikut bagaimana perencanaan penyajiannya di depan forum kelas. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
4.                  Academic-Constructive Controversy (AC)
Setiap anggota kelompok dituntut kemampuannya untuk berada dalam situasi konflik intelektual yang dikembangkan berdasarkan hasil belajar masing-masing, baik bersama anggota sekelompok maupun dengan anggota kelompok lain. Kegiatan pembelajaran ini mengutamakan pencapaian dan pengembangan kualitas pemecahan masalah, pemikiran kritis, pertimbangan, hubungan antarpribadi, kesehatan psikis dan keselarasan. Penilaian didasarkan pada kemampuan setiap anggota maupun kelompok mempertahankan posisi yang dipilihnya.
5.                  Jigsaw Proscedure (JP)
Dalam bentuk pembelajaran ini, anggota suatu kelompok diberi tugas yang berbeda-beda tentang suatu pokok bahasan. Agar setiap anggota dapat memahami keseluruhan pokok bahasan, tes diberikan dengan materi yang menyeluruh. Penilaian didasarkan pada rata-rata skor tes kelompok.
6.                  Student Team Achievement Divisions (STAD)
Para siswa dalam suatu kelas dibagi menjadi beberapa kelompok kecil. Anggota-anggota dalam setiap kelompok saling belajar dan membelajarkan sesamanya. Fokusnya adalah keberhasilan seorang akan berpengaruh terhadap keberhasilan kelompok dan demikian pula keberhasilan kelompok akan berpengaruh terhadap keberhasilan individu siswa. Penilaian didasarkan pada pencapaian hasil belajar individual maupun kelompok.
7.                  Complex Instruction (CI)
Metode pembelajaran ini menekankan pelaksanaan suatu proyek yang berorientasi pada penemuan, khususnya dalam bidang sains, matematika dan pengetahuan sosial. Fokusnya adalah menumbuhkembangkan ketertarikan semua anggota kelompok terhadap pokok bahasan. Metode ini umumnya digunakan dalam pembelajaran yang bersifat bilingual (menggunakan dua bahasa) dan di antara para siswa yang sangat heterogen. Penilaian didasarkan pada proses dan hasil kerja kelompok.
8.                  Team Accelerated Instruction (TAI)
Bentuk pembelajaran ini merupakan kombinasi antara pembelajaran kooperatif/ kolaboratif dengan pembelajaran individual. Secara bertahap, setiap anggota kelompok diberi soal-soal yang harus mereka kerjakan sendiri terlebih dulu. Setelah itu dilaksanakan penilaian bersama-sama dalam kelompok. Jika soal tahap pertama telah diselesaikan dengan benar, setiap siswa mengerjakan soal-soal tahap berikutnya. Namun jika seorang siswa belum dapat menyelesaikan soal tahap pertama dengan benar, ia harus menyelesaikan soal lain pada tahap yang sama. Setiap tahapan soal disusun berdasarkan tingkat kesukaran soal. Penilaian didasarkan pada hasil belajar individual maupun kelompok.
9.                  Cooperative Learning Stuctures (CLS)
Dalam pembelajaran ini setiap kelompok dibentuk dengan anggota dua siswa (berpasangan). Seorang siswa bertindak sebagai tutor dan yang lain menjadi tuteeTutor mengajukan pertanyaan yang harus dijawab oleh tutee. Bila jawaban tutee benar, ia memperoleh poin atau skor yang telah ditetapkan terlebih dulu. Dalam selang waktu yang juga telah ditetapkan sebelumnya, kedua siswa yang saling berpasangan itu berganti peran.
10.              Cooperative Integrated Reading and Composition (CIRC)
Model pembelajaran ini mirip dengan TAI. Sesuai namanya, model pembelajaran ini menekankan pembelajaran membaca, menulis dan tata bahasa. Dalam pembelajaran ini, para siswa saling menilai kemampuan membaca, menulis dan tata bahasa, baik secara tertulis maupun lisan di dalam kelompoknya.

Kelebihan Dan Kekurangan Pembelajaran Kolaboratif
Kelebihan
  1. Siswa belajar bermusyawarah
  2. Siswa belajar menghargai pendapat orang lain
  3. Dapat mengembangkan cara berpikir kritis dan rasional
  4. Dapat memupuk rasa kerja sama
  5. Adanya persaingan yang sehat
Kelemahan
  1. Pendapat serta pertanyaan siswa dapat menyimpang dari pokok persoalan.
  2. Membutuhkan waktu cukup banyak.
  3. Adanya sifat‑sifat pribadi yang ingin menonjolkan diri atau sebaliknya yang lemah merasa rendah diri dan selalu tergantung pada orang lain.
  4. Kebulatan atau kesimpulan bahan kadang sukar dicapai.
2.   Model Pembelajaran Kontekstual

Contextual Teaching and Learning (CTL) merupakan proses pembelajaran yang holistik dan bertujuan membantu siswa untuk memahami makna materi ajar dengan mengaitkannya terhadap konteks kehidupan mereka sehari-hari (konteks pribadi, sosial dan kultural), sehingga siswa memiliki pengetahuan/ ketrampilan yang dinamis dan fleksibel untuk mengkonstruksi sendiri secara aktif pemahamannya.
CTL disebut pendekatan kontektual karena konsep belajar yang bertujuan  membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota masyarakat.
Langkah-Langkah Pembelajaran Kontekstual
  • Memilih tema
  • Menentukan konsep-konsep yang dipelajari
  • Menentukan kegiatan-kegiatan untuk investigasi konsep-konsep terdaftar
  • Menentukan mata pelajaran terkait (dalam bentuk diagram)
  • Mereview kegiatan-kegiatan & mata pelajaran yang terkait
  • Menentukan urutan kegiatan
  • Menyiapkan tindak lanjut

Komponen Model Pembelajaran Kontekstual

Komponen utama pembelajaran yang mendasari penerapan pembelajaran kontekstual di kelas, yaitu:

a)      Konstruktivisme (constructivism)
Konstruktivisme adalah proses membangun dan menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman. Dalam hal ini, seorang guru perlu mempelajari pengalaman hidup dan pengetahuan, kemudian menyusun pengalaman belajar yang memberi siswa kesempatan baru untuk memperdalam pengetahuan tersebut.

b)     Bertanya (questioning)
Penggunaan pertanyaan untuk menuntun berpikir siswa lebih baik daripada sekedar memberi siswa informasi untuk memperdalam pemahaman siswa. Siswa belajar mengajukan pertanyaan tentang fenomena, belajar bagaimana menyusun pertanyaan yang dapat diuji, dan belajar untuk saling bertanya tentang bukti, interpretasi, dan penjelasan. Pertanyaan digunakan guru untuk mendorong, membimbing, dan menilai kemampuan berpikir siswa.

c)      Inkuiri (inquiry)
Inkuiri adalah proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, yang diawali dengan pengamatan dari pertanyaan yang muncul. Jawaban pertanyaan-pertanyaan tersebut didapat melalui siklus menyusun dugaan, menyusun hipotesis, mengembangkan cara pengujian hipotesis, membuat pengamatan lebih jauh, dan menyusun teori serta konsep yang berdasar pada data dan pengetahuan.
Adapun langkah-langkah kegiatan menemukan: 1) Merumuskan masalah, 2) Mengamati atau melakukan observasi, 3) Menganalisis dan menyejikan hasil dalam tulisan, gambar laporan, bagan, table atau karya lainnya. 4) Mengkomunikasikan atau menyajikan hasil karya pada pembaca, teman sekelas, guru, atau audiensi yang lain.

Secara singkat pola ini bertujuan untuk melatih kemampuan siswa dalam meneliti, menjelaskan fenomena, dan memecahkan masalah secara ilmiah. Hal ini dilakukan karena pada dasarnya secara intuitif setiap invidu cenderung melakukan kegiatan ilmiah. Kemampuan tersebut dapat dilatih sehinggasetiap individu kelak dapat dapat melakukan kegiatan ilmiahnya secara sadar dan dengan prosedur yang benar.
d)     Masyarakat Belajar (learning community)
Masyarakat belajar adalah sekelompok siswa yang terikat dalam kegiatan belajar agar terjadi proses belajar lebih dalam. Semua siswa harus mempunyai kesempatan untuk bicara dan berbagi ide, mendengarkan ide siswa lain dengan cermat, dan bekerjasama untuk membangun pengetahuan dengan teman di dalam kelompoknya. Konsep ini didasarkan pada ide bahwa belajar secara bersama lebih baik dari pada belajar secara individual.
e)      Pemodelan (modeling)
Pemodelan adalah proses penampilan suatu contoh agar orang lain berpikir, bekerja, dan belajar. Pemodelan tidak jarang memerlukan siswa untuk berpikir dengan mengeluarkan suara keras dan mendemonstrasikan apa yang akan dikerjakan siswa. Pada saat pembelajaran, sering guru memodelkan bagaimana agar siswa belajar, guru menunjukkan bagaimana melakukan sesuatu untuk mempelajari sesuatu yang baru. Guru bukan satu-satunya model. Model dapat dirancang dengan melibatkan siswa.
f)       Refleksi (reflection)
Refleksi memungkinkan cara berpikir tentang apa yang telah siswa pelajari dan untuk membantu siswa menggambarkan makna personal siswa sendiri. Di dalam refleksi, siswa menelaah suatu kejadian, kegiatan, dan pengalaman serta berpikir tentang apa yang siswa pelajari, bagaimana merasakan, dan bagaimana siswa menggunakan pengatahuan baru tersebut. Refleksi dapat ditulis di dalam jurnal, bisa terjadi melalui diskusi, atau merupakan kegiatan kreatif seperti menulis puisi atau membuat karya seni.

g)      Penilaian Autentik (Authentic Assessment)
Penilaian autentik sesungguhnya adalah suatu istilah/terminology yang diciptakan untuk menjelaskan berbagai metode penilaian alternatif. Berbagai metode tersebut memungkinkan siswa dapat mendemonstrasikan kemampuannya untuk menyelesaikan tugas-tugas, memecahkan masalah, atau mengekspresikan pengetahuannya dengan cara mensimulasikan situasi yang dapat ditemui di dalam dunia nyata di luar lingkungan sekolah. Berbagai simulasi tersebut semestinya dapat mengekspresikan prestasi (performance) yang ditemui di dalam praktek dunia nyata seperti tempat kerja. Penilaian autentik seharusnya dapat menjelaskan bagaimana siswa menyelesaikan masalah dan dimungkinkan memiliki lebih dari satu solusi yang benar.Strategi penilaian yang cocok dengan kriteria yang dimaksudkan adalah suatu kombinasi dari beberapa teknik penilaian.
Hal-hal yang bisa digunakan sebagai dasar menilai prestasi siswa, yaitu; proyek, PR, kuis, karya siswa, presentasi atau penampilan siswa, demonstrasi, laporan, jurnal, hasil tes tulis, karya tulis.

Karakteristik Model Kontekstual

Pembelajaran kontekstual menurut Muslich mempunyai karakteristik sebagai berikut:
1)      Pembelajaran dilaksanakan dalam konteks autentik, yaitu pembelajaran yang diarahkan pada ketercapaian keterampilan dalam konteks kehidupan nyata atau pembelajaran yang dilaksanakan dalam lingkungan yang alamiah (learning in real life setting).
2)      Pembelajaran memberikan kesempatan kepada siswa untuk mengerjakan tugas-tugas yang bermakna (meaningful learning).
3)      Pembelajaran dilaksanakan dengan memberikan pengalaman bermakna kepada siswa (learning by doing).
4)      Pembelajaran dilaksanakan melalui kerja kelompok, berdiskusi, saling mengoreksi antarteman (learning in a group).
5)      Pembelajaran memberikan kesempatan untuk menciptakan rasa kebersamaan, bekerja sama, dan saling memahami antara satu dengan yang lain secara mendalam (learning to know each other deeply).
6)      Pembelajaran dilaksanakan secara aktif, kreatif, produktif, dan mementingkan kerja sama (learning to ask, to inquiry, to work together).
7)      Pembelajaran dilaksanakan dalam situasi yang menyenangkan (learning as an enjoy activity).

Kelebihan dari model pembelajaran kontekstual

  1. Memberikan kesempatan pada sisiwa untuk dapat maju terus sesuai dengan potensi yang dimiliki sisiwa sehingga sisiwa terlibat aktif dalam PBM.
  2. Siswa dapat berfikir kritis dan kreatif dalam mengumpulkan data, memahami suatu isu dan memecahkan masalah dan guru dapat lebih kreatif
  3. Menyadarkan siswa tentang apa yang mereka pelajari.
  4. Pemilihan informasi berdasarkan kebutuhan siswa tidak ditentukan oleh guru.
  5. Pembelajaran lebih menyenangkan dan tidak membosankan.
  6. Membantu siwa bekerja dengan efektif dalam kelompok.
  7. Terbentuk sikap kerja sama yang baik antar individu maupun kelompok.


Kelemahan model pembelajaran kontekstual 

  1. Dalam pemilihan informasi atau materi dikelas didasarkan pada kebutuhan siswa padahal,dalam kelas itu tingkat kemampuan siswanya berbeda-beda sehinnga guru akan kesulitan dalam menetukan materi pelajaran karena tingkat pencapaianya siswa tadi tidak sama.
  2. Tidak efisien karena membutuhkan waktu yang agak lama dalam PBM
  3. Dalam proses pembelajaran dengan model CTL akan nampak jelas antara siswa yang memiliki kemampuan tinggi dan siswa yang memiliki kemampuan kurang, yang kemudian menimbulkan rasa tidak percaya diri bagi siswa yang kurang kemampuannya.
  4. Bagi siswa yang tertinggal dalam proses pembelajaran dengan CTL ini akan terus tertinggal dan sulit untuk mengejar ketertinggalan, karena dalam model pembelajaran ini kesuksesan siswa tergantung dari keaktifan dan usaha sendiri jadi siswa yang dengan baik mengikuti setiap pembelajaran dengan model ini tidak akan menunggu teman yang tertinggal dan mengalami kesulitan.
  5. Tidak setiap siswa dapat dengan mudah menyesuaikan diri dan mengembangkan kemampuan yang dimiliki dengan penggunaan model CTL ini.
  6. Kemampuan setiap siswa berbeda-beda, dan siswa yang memiliki kemampuan intelektual tinggi namun sulit untuk mengapresiasikannya dalam bentuk lesan akan mengalami kesulitan sebab CTL ini lebih mengembangkan ketrampilan dan kemampuan soft skill daripada kemampuan intelektualnya.
  7. Pengetahuan yang didapat oleh setiap siswa akan berbeda-beda dan tidak merata.
  8. Peran guru tidak nampak terlalu penting lagi karena dalam CTL ini peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan.








Komentar

  1. 1. Dalam pembelajaran kolaboratif, apa yang harus dilakukan apabila ada siswa yang tidak berperan aktif dalam pembelajaran dan tidak mampu menyampaikan pendapat(pasif) ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dalam pembelajaran kolaboratif siswa dituntut untuk bekerja sama dalam kelompoknya, jika ada siswa yg masih pasif maka tugas guru yg dalam hal ini sebagai pembimbing untuk memancing siswa supaya aktif,baik dengan pertanyaan ataupun lainnya. Sehingga pada akhirnya siswa menyampaikan pendapatnya dan bs berkolaborasi dalam satu tim atau kelompok

      Hapus
    2. Menurut pendapat saya jika dalam proses pembelajaran model kolaboratif terdapat siswa yang tidak aktif (pasif) gurulah yang bertugas untuk menarik minat siswa agar dapat ikut terlibat aktif dalam proses pembelajaran. usaha-usaha yang dapat dilakukan oleh guru yaitu seperti memberikan pertanyaan kepada siswa, menarik minat siswa dengan menggunakan media pembelajaran yang menarik, memberikan motivasi kepada siswa agar terdorong ikut serta dalam proses pembelajaran. jika seorang siswa tidak mampu menyampaikan pendapatnya,guru dapat memberikan motiasi, membimbing, dan meningkatkan rasa percaya diri kepada siswa.

      Hapus
  2. 2. Pada model pembelajaran kontekstual, apakah tugas pokok guru ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. menurut saya dalam pembelajaran kontekstual tugas guru adalah memfasilitatori siswa untuk mengembangkan pengalaman yang ada sehingga siswa dapat lebih memahami pembelajaran ke tahap berikutnya.

      Hapus
    2. Menurut saya tugas pokok guru dalam model pembelajaran kontekstual adalah untuk mengarahkan siswa agar mencapai tujuan pembelajaran. Guru mengaitkan pengalaman nuata siswa kedalam materi pembelajaran sehingga siswa menjadi lebih memahami.. Tugas guru adalah mengarahkan siswa baik dengan pertanyaan ataupun lainnya.. Terimakasih

      Hapus
    3. Dalam model pembelajaran kontekstual peran guru hanya sebagai pengarah dan pembimbing, karena lebih menuntut siswa untuk aktif dan berusaha sendiri mencari informasi, mengamati fakta dan menemukan pengetahuan-pengetahuan baru di lapangan. Keaktifan siswa yang sangat berperan dalam model pembelajaran ini. Guru hanya memotivasi, mengarahkan dan menyadarkan siswa tentang pembelajaran yang dilakukan

      Hapus
    4. guru berfungsi sebagai pendorong atau sebagai acuan buat siswa dalam melaksakan proses belajar mengajar di luar lingkungan sekolah agar siswa bisa berkarya sendiri dalam tugas sekolahnya.

      Hapus
  3. Pada model pembelajaran kolaboratif dalam penerapannya kebulatan atau kesimpulan kadang sukar dicapai, bagaimanakah cara guru untuk mengatasinya ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalau menurut saya didalam sebuah pembelajaran atau ketika guru menerapkan model pembelajaran tidak selamanya hasil yang didapat sesuai dengan yg diharapkan oleh guru, dan bagaimana cara guru mengatasinya yaitu dengan cara guru lebih memantapkan lagi dari segi pemahaman siswa karena untuk mencapai kesimpulan atau kebulatan hasil didalam pembelajaran memerlukan waktu dan pemahaman serta sikap siswa didalam proses pembelajaran

      Hapus
    2. Menurut saya dalam langkah-langkah pembelajaran kolaboratif terdapat posisi dimana Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Diakhir tahapan ini bisa dilakukan penarikan kesimpulan atas kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan, bisa dengan kelompok lain yang mengamati yang memberikan kesimpulan atau bagi siswa yang termotivasi untuk menyampaikan pendapatnya.

      Hapus
    3. Assalamualaikum wr,wb
      Dalam model kolaboratif kebulatan dan kesimpulan susah di capai.bagaimana guru mengatasinya ?
      Menurut saya tercapai atau tidaknya tergantung guru, karena disini guru adalah sebagai mediator yaitu pembelajar senior yang mentranformasikan pengalamannya kepada siswa,membantu kesulitan yang di hadapi oleh siswa dalam pembelajaran,mengarahkan bagaimana proses pembelajaran yang sedang dilakukan.
      Terima kasih

      Hapus
  4. Assalamulaikum wr wb
    saya sedikit inggi menanyakan disini ada sepuluh Macam-macam Pembelajaran Kolaboratif. Diantara sepuluh itu yang manakah yang lebih mudah di terapkan model pembelajaran pada sekolah pendidikan Dari jenjang SD Sd SMA.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terimakasih atas pertanyaannya, pada prinsipnya semua macam pembelajaran kolaboratif dapat dan sangat baik digunakan dalam jenjang pendidikan manapun dan mata pelajaran apapun karena sesuai dengan kurikulum k.13 saat ini yaitu lebih mengutamakan partisipasi aktif para siswa tinggal disesuaikan dengan materi dan kondisi peserta didik.

      Hapus
  5. Baik, menilik dari pertanyaan model kolaboratif yang menemui masalah dmna siswa psif, hal ini menunjukan kolaborasi giru dengan siswa belum tercpai, artinya perlu dikembangkan pemikiran siswa supaya paham dan mejadi aktif, disini peran guru di tuntut, mingkin dapat ditambahkan dengan strategi pmeblajaran aktif yang dapat merangsang siswa aktif.

    BalasHapus

Posting Komentar